dr Erick Supondha Ingin Jadi Mutiara di Pasir Hitam
Jakarta, ‘Jangan takut belajar ilmu baru. Jika masih sedikit yang menguasainya akan membuatmu seperti mutiara di pasir hitam’. Inilah yang jadi pegangan dr Erick Supondha, MKK saat mempelajari hiperbarik. Mulanya dr Erick sempat lama berkecimpung di dunia ICU. Aneka pelatihan dan literatur yang dibaca membuatnya mengenal hiperbarik. Terapi oksigen hiperbarik merupakan salah satu cara pengobatan. Dalam terapi ini, pasien bernapas dengan menghirup oksigen murni dalam ruang atau chamber bertekanan lebih dari 1 atmosfer absolut. Ketika akan mempelajari dan mendalami hiperbarik, sempat muncul keraguan di hati dr Erick. Mengingat kala itu hiperbarik masih tergolong baru di Indonesia dan sangat jarang yang menggeluti, dia khawatir justru tidak akan banyak berguna. “Lalu saya minta nasihat paman, kata paman saya ilmu itu tidak ada yang jelek karena kalau dipelajari akan memperkaya dari berbagai aspek. Selain itu kalau masih sedikit yang pelajari, artinya masih langka. Saya disarankan ambil saja,” tutur dr Erick di tempat kerjanya, RS Bethsaida, Tangerang, saat berbincang dengan detikHealth beberapa waktu lalu. “Ini akan jadi mutiara di pasir hitam. Dari bukit, meskipun kecil, bisa kelihatan karena warnanya putih sendiri,” sambung dr Erick mengulang nasihat pamannya. Akhirnya dr Erick mantap mendalami hiperbarik dan bertekad mengembangkan hiperbarik di Indonesia. Bahkan karena kompetensinya, dr Erick kerap menjadi pembicara di sejumlah forum. Bahkan menurutnya banyak dokter muda yang terinspirasi olehnya untuk mendalami hiperbarik. dr Erick sendiri mengambil pendidikan hiperbarik di Universitas Indonesia pada 2005 silam. Di Indonesia pendidikan ini merupakan pendidikan S2, namun para mahasiswanya tetap memegang pasien dan melakukan tindakan. Bukan sekadar administrasi saja. Menurut dr Erick, yang ada di Indonesia beda dengan yang di luar negeri, di mana hiperbarik sudah menjadi spesialisasi. “Tantangannya di kalangan medis sendiri masih belum banyak yang kenal, jadi harus terus dijelaskan. Juga ke masyarakat tentang apa itu hiperbarik. Tapi paling berat di medis karena belum 100 persen menerima hiperbarik, kecuali dokter yang sudah mendapatkan hasilnya,” papar dr Erick. Karena mendalami hiperbarik, mau tidak mau dr Erick juga harus bisa menyelam. Maklum, kebanyakan pasiennya pun para penyelam. Bagi dr Erick menyelam bukan perkara mudah karena awalnya dia tidak bisa berenang. Apalagi saat pendidikan, ada mata kuliah menyelam bernilai 2 SKS. Akhirnya dia pun mulai belajar berenang dan menyelam. Bahkan ayah dari tiga anak ini mengambil lisensi menyelam dari Persatuan Olahraga Selam Indonesia (POSI). Tak cuma itu, dia terus mengasah kemampuan menyelamnya dengan mengikuti kursus. Saat ini dia sudah tergolong penyelam tingkat lanjut dengan Master Scuba Diver-nya. Kini dr Erick sering memanfaatkan waktu luangnya untuk menyelam, mengagumi keindahan bawah laut. Suatu kali dia bahkan hampir setengah bulan berada di Derawan. Hampir semua titik di Derawan sudah disambanginya. Bontang, Bali, Gili, Karimunjawa dan Pulau Sangihe adalah sejumlah perairan lain yang telah dijajal dr Erick untuk menyelam. “Kalau paling sering ya Pulau Seribu. Dengan belajar menyelam, bergaul dengan penyelam, bisa lebih mudah menyosialisasikan kesehatan penyelaman, termasuk soal hiperbarik,” tambah dr Erick yang tumbuh di keluarga tentara dan penegak hukum ini.
[Detik/iCampus Indonesia]

Komentar