suarasurabaya.net – Profesor Mohammad Nasih Rektor Universitas Airlangga Surabaya mengaku prihatin dan terkejut dengan ditetapkannya Fasichul Lisan mantan rektor Unair sebagai tersangka Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rabu (30/3/2016). “Kami semua terkejut dan prihatin. Beliau sudah mencurahkan segala kemampuannya untuk mengabdikan diri di dunia pendidikan, tentu kami sangat prihatin dan bersedih,” ujarnya usai menghadiri peringatan Hari Pers Nasional di Gedung Negara Grahadi Surabaya. Meski demikian, Nasih tetap menghormati proses hukum yang sedang berjalan. Dia berharap proses hukum bisa berjalan seadil-adilnya. “Kami berharap proses berikutnya akan berjalan seadil-adilnya sehingga keadilan bisa ditegakkan di bumi ini,” katanya. Sebagai institusi, Unair akan memberikan bantuan hukum untuk Fasichul Lisan. Karena, selama ini proses proyek yang dikerjakan Unair baik-baik saja. “Yang beliau (Fasich, red) lakukan untuk Unair sangat luar biasa. Terkait masalah ini, dari dulu sudah diperiksa BPK dan sudah klir tidak ada masalah. Kalau saya merasa, proyek itu tidak ada yang janggal. Unair sudah melaksanakan kewajibannya ke Kementerian dan BPK,” kata Nasih. Dengan ditetapkannya mantan orang nomor satu di Unair ini sebagai tersangka, menurut Nasih tidak akan berdampak pada kelangsungan akademik. “Tidak ada. Rumah sakit tetap berjalan, pendidikan tetap berjalan, semua baik-baik saja,” katanya. Nasih mengatakan, KPK sempat melakukan penggeledahan di rektorat Unair dan membawa beberapa dokumen. Nasih sangat menghormati dan terbuka bagi petugas KPK. “Kita terbuka dan biasa berjalan dengan baik,” katanya. Ke depan, pihaknya akan lebih hati-hati untuk menangani proyek dari pemerintah pusat. “Kita harus benar-benar lebih hati-hati. Bagaimanapun rektor kan tugasnya banyak,” katanya. Sekadar diketahui, Fasichul Lisan ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK karena diduga melakukan tindak pidana korupsi pembangunan rumah sakit pendidikan di Universitas Airlangga di Surabaya dengan sumber dana DIPA tahun 2007-2010 dan dugaan tindak pidana korupsi dalam peningkatan sarana dan prasarana rumah sakit pendidikan dengan sumber dana DIPA tahun 2009. Fasich yang menjadi rektor Unair sejak tahun 2006 sampai 2015, saat itu bertindak sebagai Kuasa Pengguna Anggaran. Menurut KPK, negara mengalami kerugian sekitar Rp85 Miliar dari total anggaran sekitar Rp300 Miliar.(bid/fik)  

Komentar