Tahukah kamu mengenai Teori Hierarki Kebutuhan Maslow? Secara singkatnya, Abraham Maslow beranggapan bahwa kebutuhan-kebutuhan di tingkat rendah harus terpenuhi atau paling tidak cukup terpenuhi terlebih dahulu sebelum kebutuhan-kebutuhan di tingkat lebih tinggi menjadi hal yang memotivasi. Beberapa kebutuhan lebih diutamakan dibandingkan dengan kebutuhan yang lain, dan kebutuhan yang lebih diutamakan tersebut adalah kebutuhan yang mendasar. Namun, ternyata ada juga orang-orang yang berhasil “membalik” teori tersebut. Bahkan dengan membalik teori Maslow, mereka bisa mendapat hasil yang lebih baik untuk kehidupan mereka. Salah satu contoh sederhana adalah Abdul Syukur alias Pak Tuwek, seorang tukang becak yang “gemar” menambal jalan berlubang di Surabaya. Hal itu dilakukannya sendirian, hingga pada akhirnya Walikota Surabaya mengetahui dan memberikan perhatian lebih pada kehidupan Pak Abdul. Pak Abdul ini telah mengedepankan kebutuhan selain kebutuhannya yang mendasar, yaitu menarik becak untuk mencari nafkah. Alhasil, beliau juga memberikan manfaat kepada orang lain dengan jalan yang ditambalnya, juga beliau memperoleh hasil yang lebih daripada tukang-tukang becak lain. Lalu apa hubungannya dengan kaderisasi di ITS? Setiap mahasiswa ITS pasti telah melewati proses kaderisasi di tahun pertama, entah bagaimanapun hasilnya. Porsi terbesar kaderisasi mahasiswa baru ITS dipegang oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ). Bentuknya antara lain lewat acara OK2BK, forum-forum, eventual di akhir pekan, dan sebagainya. Budaya tiap HMJ pun berbeda-beda. Sehingga nilai-nilai kaderisasi yang ditanamkan pada mahasiswa pun berbeda-beda, tergantung pada jurusan masing-masing. Bahkan, dalam satu jurusan yang sama, nilai-nilai yang ditanamkan pada setiap angkatan pun bisa jadi berbeda-beda. Kebanyakan, kaderisasi yang ditekankan oleh HMJ adalah mengenai bagaimana membentuk angkatan yang solid, kenal angkatan, kenal senior, kenal warga, kenal dosen, kenal tukang sapu jurusan, dan sebagainya. Pokoknya muter di jurusan melulu. Lalu, apa salahnya? Saya disini tidak bermaksud mengkambing hitamkan kaderisasi. Karena entah kamu akui atau tidak, kita butuh kaderisasi. Kaderisasi mahasiswa baru dibutuhkan agar mereka mengenal lingkungan jurusan mereka, mengenal bagaimana tata aturan yang ada di jurusan, serta mengenal teman-teman mereka yang akan menjadi keluarga mereka, terutama bagi anak rantau. Ya, tidak ada yang salah dengan kaderisasi, kenal angkatan, dan kenal warga. Terlepas dari mereka apakah akan melanjutkan kepengurusan di himpunan atau tidak. Namun apa yang terjadi? Mahasiswa ITS kemudian menjadikan himpunan sebagai zona nyaman mereka. Yang dipedulikan hanyalah proker, proker, dan proker. Padahal saya yakin bahwa kaderisasi bukanlah untuk membentuk seseorang menjadi sekadar budak proker. Mereka pun jadi tidak punya keresahan terhadap masalah-masalah di luar sana. Padahal katanya, ada mitos yang mengatakan bahwa mahasiswa adalah agent of change, social control, moral force, dan iron stock. Tentu saja peran fungsi tersebut tidak bisa dilakukan apabila yang dilihat hanyalah proker konser musik. Dalam hemat saya, di samping membentuk angkatan yang solid dan bla bla bla bla segala omongan itu, menurut saya tidak ada salahnya apabila dalam proses kaderisasi diinjeksikan wawasan-wawasan dari luar. Apa saja, sih, masalah yang terjadi di luar himpunan? Kebetulan ranah ormawa KM ITS saat ini, kan, ada sosial politik, sosial masyarakat, dan keprofesian. Nah, dari awal kita berikan wawasan sosial politik, bagaimana kondisi Indonesia saat ini, apa saja masalah yang sedang tren, berita apa yang jadi headline saat ini. Sisipkan saja pencerdasan ini melalui forum-forum dan acara kaderisasi eventual yang biasanya diadakan hari Sabtu-Minggu. Perlu diketahui, hal ini penting. Saya masih ingat bahwa pada saat Pemira KM ITS tahun kemarin, hanya 51% dari total keseluruhan KM ITS yang menggunakan hak pilihnya. Hal ini cukup miris untuk kita yang notabene tinggal di negara demokrasi. Apabila sejak pemula seperti sekarang tidak diajarkan untuk peduli pada hal semacam itu, bagaimana nanti ketika sudah lulus dan terjun ke masyarakat? Pada nggak milih presiden? Negara bubar, donk? Setelah ngomongin bangsa secara luas, kemudian kita ajak untuk melihat ke ranah sosial masyarakat. Bagaimana realita yang terjadi di masyarakat sekitar. Sudahlah, berapa banyak sih mahasiswa ITS yang ngerti masalah Keputih Pompa, Medokan Semampir, dan sekitarnya? Padahal letaknya juga tetanggaan sama kampus. Perlu diketahui bahwa warga Keputih Pompa sangat senang apabila kita bantu mengawal kasusnya. Karena kita adalah sekelompok orang yang dianggap kaum intelektual. Kaum yang berpikir, yang dianggap mampu untuk memecahkan masalah. Ingat! Pajak rakyat miskin bersemayam di subsidi uang kuliahmu, kawan! Setelah itu, baru kita kerucutkan ke masalah keprofesian masing-masing. Apa yang bisa kita lakukan untuk bangsa, dengan ilmu yang kita pelajari. Jadikanlah apa yang kita pelajari sebagai solusi untuk berbagai permasalahan bangsa. Percuma kita kritik-kritik pemimpin, ngata-ngatain pemerintah, tetapi kita sendiri sebagai kaum yang dianggap berpikir tidak mampu menghasilkan solusi. Yang ada hanyalah kita akan menjadi calon begundal pengkhianat bangsa. Inilah maksud saya dari membalik teori Maslow dalam kaderisasi. Ketika yang dianggap paling dasar dari kaderisasi adalah “peduli dengan angkatan” diganti dengan kepedulian pada masyarakat secara luas. Apakah dengan cara ini akan efektif? Saya belum bisa menjawab. Namun yang saya ketahui, tidak ada mesin yang mempunyai efisiensi sampai 100%. Seperti halnya sebuah sistem. Kaderisasi pun setiap angkatan memiliki masalahnya sendiri, serta solusi dan treatment tersendiri. Namun, dalam pemikiran saya yang kurang wawasan pengkaderan ini, setidaknya bisa menimbulkan keresahan dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Menghindarkan mahasiswa yang sudah dikader capek-capek hanya berujung jadi budak proker. Coba baca AD/ART ormawamu, apakah ada sebuah pasal yang menyebutkan bahwa ormawamu juga bertujuan untuk berkontribusi kepada bangsa/negara? Sudah kontribusi apa ormawamu untuk bangsa? Pratiwi FH Mahasiswa resah ITS sumber bacaan : • https://id.m.wikipedia.org/wiki/Teori_hierarki_kebutuhan_Maslow • www2.jawapos.com/baca/artikel/17327/diamplopi-risma-dul-tukang-becak-penambal-jalan-terkekeh • Musyawarah Besar IV Keluarga Mahasiswa ITS Dapatkan informasi seputar beasiswa, lowongan kerja, lomba, dan informasi lainnya di http://lin.ee/cE4w3I2 #LINE #iCampus #Indonesia

Komentar