Hai Sobat ICampus! Menulis adalah salah satu bentuk escapism dari dunia nyata bagi beberapa orang, terutama bagi kalian yang hobi banget menulis. Entah itu puisi, cerpen, artikel informatif, dan berita yang paling update. Mengingat bahwa konsumsi masyarakat belakangan ini adalah media online, kebanyakan penulis memilih untuk beralih ke wadah menulis online untuk menyesuaikan diri. Namun, menulis di media online tentu ada suka dukanya. Sehingga, tak jarang penulis baru ingin mengeluh dan kehilangan konsistensi. Waduh.. Baca Juga : 7 Tips Dapatkan Manfaat Maksimal dari Buku yang Kamu Baca

1. “Udah berminggu-minggu, nih. Kok tulisan gue masih pending?”

Nggak jelas nasibnya, bertengger di menu pending terus. Apakah diterbitkan, atau memang ditolak? Media menulis online belakangan ini semakin ramai dan disukai oleh penulis-penulis lepas yang ingin sekadar menyalurkan hobi, atau mencari uang tambahan. Jadi, wajar saja jika artikelmu tidak dilirik oleh editor. Seharinya, mereka bisa mendapat ribuan, bahkan puluh ribuan artikel yang masuk untuk disortir sebelum akhirnya diterbitkan. Sangat melelahkan, tentunya. Harus banyak-banyak sabar, ya!

2. “Kenapa tulisan gue ditolak? Sakit hati jadinya.”

Mungkin, cara menulis kamu yang masih harus dibenahi. Atau artikel kamu yang tidak sesuai dengan syarat dan ketentuan. Bukannya nggak laku, tapi tulisanmu memang belum sesuai dengan selera pasar. Gosip kehidupan tentang artis, asmara zodiak, dan penampilan terbaru selebritas yang rasanya nggakpenting-penting amat justru mendapatkan tempat tersendiri di hati para pembaca. Biasanya, media akan memanjakan para pembaca dengan konten yang up to date, dan topiknya juga terlalu berat. Jadi, jangan coba-coba memasukkan artikel tentang ilmu grafologi atau fakta tentang Ratu Elizabeth yang notabene hidup di abad ke-15!

3. “Viewers gue sedikit banget. Berhenti nulis, deh..”

Lagi-lagi, views atau jumlah pembaca memang identik dengan ketertarikan orang-orang untuk membaca tulisanmu. Dan ketertarikan membaca, lagi-lagi berkaitan dengan selera pasar. Namun, di samping itu, ada kemungkinan bahwa tema yang kamu angkat dalam tulisanmu kurang menarik. Gambarnya kurang relevan, atau judul tulisanmu yang tidak eye-catchy. Ayo, jangan patah semangat! Perbaiki terus cara menulismu dan tingkatkan kualitas kontennya.

4. “Males banget gue harus revisi…”

Untuk sebagian orang, kata ‘revisi’ memang menjadi hal yang menyakitkan. Tetapi, tujuannya tetap satu: meninjau kembali untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas dari suatu karya. Jangan pernah takut untuk revisi, ya! Kamu bisa belajar banyak dari kesalahan yang sudah lalu, dan menjadi lebih baik lagi di kesempatan berikutnya. Baca Juga : 5 Tips Hadapi Pertanyaan ‘Horor’ Saat Lebaran Tiba 

5. “Ini kata baku atau bukan, ya? Duh, harus cek KBBI!”

Dulu, mungkin kamu nggak pernah menyentuh kamus Bahasa Indonesia. Atau malah, nggak peduli dengan baku atau tidaknya suatu kata. Tapi, begitu menulis di media online.. KBBI dengan sendirinya menjadi teman baikmu! Nah, itu dia 5 keluhan yang ingin kamu sampaikan ketika baru menulis di media online. Jangan pernah menyalahkan editor atau pembaca, ya! Tetap semangat dalam menulis konten-konten informatif dan berkualitas demi mengedukasi bangsa.           Sumber : Idntimes.com  

Komentar