Hai Sobat Info Beasiswa! Setiap tahun, para peneliti dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia mematenkan ratusan hasil penelitian. Sayangnya, dari ratusan hasil riset para akademisi ini, hanya 10 persennya saja yang diterima dan dimanfaatkan oleh industri di Indonesia.

1. Banyak hasil penelitian terkadang untuk mengejar syarat karier‎

Menteri Riset dan Teknologi sekaligus Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro mengaku masih banyak kegiatan riset yang dilakukan oleh peneliti atau akademisi dari berbagai perguruan tinggi untuk mengejar persyaratan dalam menduduki jabatan tertentu. Sebab, hal yang sama juga pernah dilakukan olehnya.

“Hasil riset itu memang bisa untuk sebagai syarat untuk jabatan atau karier tertentu, namun tidak akan diterima oleh pasar atau industri,” ujarnya saat membuka silaturahmi nasional Lembaga Penelitian, Publikasi dan Pengabdian Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah (LPPM PTMA) di Hotel Harper, Kota Yogyakarta, Selasa (7/1).

“Ketika penelitian tidak diterima pasar maka artinya apa yang diteliti di universitas belum nyambung dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat,” tambahnya lagi.

Baca Juga :  Untukmu yang Harus Bekerja demi Menyambung Kuliah, Semangat Ya!

2. Dosen yang mendapatkan tugas penelitian harusnya diberi jam sedikit mengajar‎

Dalam upaya memperbaiki peta jalan riset yang baik (kuantitatif dan kualitatif), Bambang meminta kampus untuk merumuskan ulang kebijakan penelitian baik tentang kebijakan penelitian, waktu, materi riset dan tentunya penghargaan untuk diteliti.

“Penelitian di kampus harus sejalan dengan kebutuhan pasar. Dosen yang diberi waktu Rektorat untuk melakukan riset seharusnya diberi waktu lebih sedikit untuk mengajar. Salah satu rendahnya keberhasilan riset karena dosen sibuk mengajar. Kita harus akui itu,”tuturnya.

3. Hasil penelitian di Indonesia baru pada tahap purwarupa‎

Lebih jauh, Bambang mengatakan riset di kalangan kampus seharusnya tidak lagi untuk kepentingan pribadi atau peneliti namun lebih berorientasi yang bisa mendunia seperti yang dilakukan di Korea dengan Samsungnya.

“Hasil riset di Indonesia belum ada yang masuk industri terkenal di dunia. Tahap riset kita masih berhenti pada purwarupa saja, tanpa pernah dikembangkan ke arah kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Baca Juga : Gak Cuma Jago Ngomong, 8 Kemampuan Ini Juga Dipelajari Anak Komunikasi

4. 170 PTMA di seluruh Indonesia telah menghasilkan sebanyak 391 jurnal yang telah terindek‎

Ketua Majelis Dikti Litbang PP Muhammadiyah, Harun Joko Prayitno mengatakan dari 170 PTMA yang ada, terdapat 361 jurnal yang sudah terindeks dari total secara nasional sebanyak lebih dari 3800 jurnal. Artinya, jurnal dari PTMA sudah mencapai 10 persen dari ke.

“Dari 170 PTMA ini dari laporannya secara umum terindeks di Sinta (Science and Technology Index) 1 sebanyak 5 jurnal, Sinta 2 sebanyak 30 jurnal dan selebihnya masuk dalam Sinta 4, 5 dan selanjutnya. Yang tidak masuk Sinta tidak saya sebutkan,” katanya.‎

Sumber : Idntimes.com

Komentar