Hai Sobat Info Beasiswa! Zaman masih sekolah, siapa yang setuju kalau bahasa Indonesia menjadi salah satu mata pelajaran paling susah untuk dapat nilai sempurna? Ya, meski kita gunakan sehari-hari, begitu banyak aturan dalam tata bahasa kita yang sering kali menjebak dan membingungkan.

Salah satunya adalah soal kata imbuhan. Tampak sepele, sih. Namun, masih saja ada yang belum sepenuhnya paham dan salah dalam menuliskan.

Nah, berikut ada 5 hal seputar kata imbuhan dalam bahasa Indonesia yang wajib kamu tahu. Simak, yuk!

1. Saat imbuhan “ter-” dan “ber-” bertemu dengan kata yang suku kata pertamanya mengandung unsur “er”

Imbuhan pertama yang bakal dibahas adalah imbuhan “ter-” dan “ber-“. Tahukah kamu kalau imbuhan “ter-” dan “ber-” bertemu dengan kata yang suku kata pertamanya mengandung unsur “er”, maka huruf “R” pada imbuhan “ter-” dan “ber-” harus luluh?

Misalnya, kata cerna dan kerlip. Jika kedua kata tersebut diberi imbuhan “ter-” dan “ber-“, maka kata yang terbentuk bukan tercerna dan berkerlip, melainkan tecerna dan bekerlip. Contoh lain:

  • Kerja – bekerja
  • Cermin – tecermin
  • Terbang – beterbangan
  • Derma – bederma

Baca Juga :  5 Mindset yang Harus Kamu Miliki Supaya Bisa Terus Berkembang

2. Saat imbuhan “ter-” dan “ber-” bertemu dengan kata yang suku kata pertamanya tidak mengandung unsur “er”

Sebaliknya, jika imbuhan “ter-” dan “ber-” bertemu dengan kata yang suku kata pertamanya tidak mengandung unsur “er”, maka huruf “R” pada imbuhan “ter-” dan “ber-” tidak luluh. Contohnya, kata cerai dan keringat. Setelah mendapat imbuhan “ter-” dan “ber-“, maka menjadi tercerai dan berkeringat.

Contoh lain:

  • Ceramah – berceramah
  • Jerawat – berjerawat

3. Saat imbuhan “me-” dan “pe-” bertemu dengan kata yang terdiri dari tiga huruf

Kosakata yang hanya terdiri dari tiga huruf seperti jus dan cor, mendapat perlakuan khusus saat mereka bertemu dengan imbuhan “me-” dan “pe-“. Jadi, imbuhan tersebut akan berubah menjadi “menge-” dan “penge-” diikuti oleh kosakata yang terdiri dari tiga huruf tadi. Biar lebih jelas, simak contoh berikut:

  • Jus – mengejus – pengejus
  • Cor – mengecor – pengecor
  • Tik – mengetik – pengetik
  • Lap – mengelap – pengelap

Paham, ya?

Baca Juga : 7 Fakta Unik Universitas Brown, Almamater Emma Watson

4. Penggunaan imbuhan “di-” yang masih sering keliru dengan kata depan “di”

Bicara “di-” sebagai imbuhan, maka kamu harus menuliskannya serangkai dengan kata dasar sesudahnya. Kata dasar ini haruslah berupa kata kerja. Misalnya, kata baca dan tulis. Setelah mendapat imbuhan “di-“, kata tersebut berubah menjadi dibaca dan ditulis, bukan di baca dan di tulis.

Berbeda dengan “di” yang berfungsi sebagai kata depan. “Di” sebagai kata depan harus dipisahkan dengan kata dasar setelahnya. Umumnya, kata depan “di” akan diikuti oleh kata keterangan tempat atau waktu. Contohnya kata pasar dan zaman. Kata tersebut akan berubah menjadi di pasar dan di zaman, bukan dipasar dan dizaman.

Nah, yang perlu diperhatikan, kata keterangan tempat ini gak cuma mencakup tempat yang terlihat saja, namun juga tempat yang abstrak. Seperti di angan-angandi penglihatan, dan di benak.

Jadi, jangan sampai tertukar atau salah penulisan lagi, ya. Ini tuh gampang banget, guys!

5. Saat kata dasar berawalan huruf P bertemu dengan imbuhan “me-” atau “pe-“

Ketika kata dasar berawalan huruf P yang diikuti huruf vokal bertemu dengan imbuhan “me-” atau “pe-“, maka huruf P tersebut akan luluh. Sedangkan imbuhan “me-” dan “pe-” akan berubah menjadi “mem-” dan “pem-“.

Contoh kata berawalan huruf P mendapat imbuhan “me-“:

  • Pesona – memesona
  • Posisi – memosisikan

Biasanya imbuhan “me-” pada huruf berawalan P inilah yang masih sering salah dalam penulisan. Bukan mempesona, tapi memesona, ya.

Sedangkan untuk contoh kata berawalan huruf P mendapat imbuhan “pe-” adalah sebagai berikut:

  • Padam – pemadam
  • Pasti – pemastian

Nah, gimana, guys? Cukup seru bukan belajar bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Semoga informasi tadi bermanfaat buatmu, ya.

Sumber : Idntimes.com

Komentar